Articles Comments

Belajar Untuk Berbagi » Pengalaman » Ini mungkin Jalanku di Kampung Inggris Pare Bagian 1

Ini mungkin Jalanku di Kampung Inggris Pare Bagian 1

Leee…leee tangi tangi wes jam papat lho[1], suara ibu yang membangunkan tidurku di hari sabtu pagi tanggal 29 Oktober 2011 kemarin. Hoooam…mulutku menganga sambil mengucek-ucek kedua mata, Iya..Bu’e kataku kepada Bu’e. Iya..ya udah jam 4.00 pagi, gumanku seraya memantengi dua jarum jam yang ada didekat kamar tidur dengan pandangan yang agak sedikit masih buram, maklum habis melayang di alam kapuk jadinya arwahnya belum begitu balik total[2].  Dengan agak sedikit sempoyongan akhirnya tubuh ini kuajak untuk beranjak meninggalkan singgasana kasur yang empuk pindah didepan TV,inilah kebiasaanku sehabis tidur pasti menyempatkan memencet remote TV dan melihat ada acara apa di TV jam 4.00 pagi ini. Pilihanku terakhir dari pencat-pencet nomer remote TV tertuju pada angka 8 yaitu MNC TV dengan acara Pengajian Ustad Arifin Ilham, walaupun belum begitu sadar penuh dari tidur, ku paling menyukai  dan sering merenungi diri ini setiap mendengarkan Tausiah dari Ustad Arifin Ilham itu karena materi dari Ustad dengan kata-katanya yang mengena dalam hati. Tidak hanya Ustad Arifin Ilham, sering juga ku tidak melewatkan Pengajian dari Ustad Yusuf Mansyur yang berhubungan dengan sedekah dalam mendatangkan pertolongan dari Allah SWT di AN TV.

30 menit telah berlalu, jarum jam menunjukkan pukul 4.30 WIB. Seraya bergegas mendekati handuk yang berjejer rapi digantungan baju,sreeet…suara dari handuk yang ku ambil dan segera kusadarkan sepenuhnya jiwa dan raga ini dengan guyuran air pagi yang dingin….brrrrrr,dinginnya guyuran air yang membasahi tubuh ini  ditandai bulu-bulu halus dikulit berdiri semua. Dari rencana kemarin yang telah tersusun, berangkat ke Pare jam 5.00 pagi dan sampai disana kurang lebih jam 6.00 pagi dengan harapan tidak ngantri karena kemarin dapat sms dari seorang teman kalau bisa datang jam 6.30 harus sudah di depan BEC. Persiapan dari mandi,sholat shubuh dan sholat sunnah hajat, dan semburan minyak wangi dibaju dan jaket yang kukenakkan pun selesai, untuk sholat sunnah kali ini ku maksudkan untuk meminta agar selamat sampai sana dan bisa mendapatkan nomer tempat duduk. Tak lupa juga ku membawa 2 barang temenku yang ku ikat rapat dibelakang motor. Persiapan sudah selesai dengan tas hitam yang menempel dipunggungku dengan isi didalamnya sepatu, ijasah,foto,pulpen dan persyaratan administrasi pendaftaran untuk kursus di BEC.

Bu’e…mbudal riyen Assalamu’alaikum ngreng…ngreng…ngreng suara motor hitamku mulai ku ajak melangkah meninggalkan rumah. Wa’alaikumsalam Wr.Wb, iyo lee ati-ati neng dhalan[3]…suara Ibu yang lama-lama mulai tak terdengar seraya motor ini meninggalkan rumah. Seperti perjalanan menuju Pare sebelumnya kali ini motorku ku ajak melewati jalur seperti kemarin melewati perempatan semampir lurus ke timur. Kali ini perjalananku ke Pare hanya ditemani 2 kardus yang dengan tenang duduk dibelakangku, perjalanan kali ini memang terasa tidak ada perbincangan seperti hari kamis kemarin yang bersama teman dari Banten. Akhirnya dalam mengusir mulut yang gatal ini ku menyanyikan kalimat yang biasa dilantunkan dalam dzikir, Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar dari mulai berangkat sampai tiba di Pare. Mulai melantunkan dalam versi dangdut , rap, pop, dan melantunan seperti biasa dalam mode Dzikir……bersambung ke Ini mungkin Jalanku di Kampung Inggris Pare Bagian 2

Mau Lihat Lebih...
Mau Lihat Lebih...

Written by

Filed under: Pengalaman · Tags: , , , ,

Leave a Reply

*

*

You might also likeclose