Articles Comments

Belajar Untuk Berbagi » Pengalaman » Ini mungkin Jalanku di Kampung Inggris Pare Bagian 2

Ini mungkin Jalanku di Kampung Inggris Pare Bagian 2

Lanjutan dari Ini mungkin Jalanku di Kampung Inggris Pare Bagian 1 : Jalanan menuju Kediri ke Pare ndak ngerasa masih sepi dan motorku dengan tenang melaju tanpa kwatir harus mengalah dengan raja jalanan[4]. Alhamdulillah sampai sudah ku di Kampung Inggris Pare, ku melintasi di depan BEC dan ternyata yang ngantri untuk mendapatkan nomer tempat duduk sudah begitu penuh tapi ku ndak pedulikan soalnya terlebih dahulu 2 barang temenku ini harus kuserahkan dulu, ndak tahu kenapa kali ini begitu tenang dan nyantai tidak seperti hari-hari sebelumnya yang sering tergesa-gesa dan kwatir, padahal sewaktu melintas di depan BEC suasana pengantri sudah merayap padat. Dalam hati, aaah ini dulu dianterin ke kost temen baru setelah itu ikut meramaikan antrian merebutkan kursi untuk belajar di BEC, ternyata selain calon anggota DPR yang berebut kursi, ditempat kursus juga sama seperti itu tetapi disini lain karena kalau di DPR yang kadang-kandan harus menggunakan cara-cara yang bisa merugikan untuk pihak lain untuk dapat kursi tetapi kalau daftar di BEC dengan judul “Siapa cepat datang maka kursi tersedia Untukmu”. Sekiranya urusan mengantar kedua barang milik teman sudah beres dianterin, ku langsung menuju ke BEC untuk meramaikan antrian juga. Sewaktu menganter 2 kardus barangnya temen, ternyata dia sudah mengantri dulu dan terpaksa barang anteran itu ku titipkan ke teman kostnya.

Mengantri pun dimulai, waooow…ekspresi terkejut pun seketika terlontar, Subhanallah..ucapku lirih. Bagaimana tidak, sekali ngantri langsung dapat urutan kursi 238. Dalam pikiran sedikit memutar ingatan “Waah, kemarin katanya bagian informasi BEC untuk kuota maksimal bagi laki-laki itu 200 siswa yang diterima”. Sambil membesarkan hati, aaaah ndak boleh berpikiran negatif dulu mungkin nanti ada yang ke toilet karena sakit perut atau kebelet pipis jadinya ndak jadi daftar karena ke geser. Detik berganti detik, menitpun juga ikut berganti dan jam pun juga ndak mau kalah ikut berputar juga tetapi kok belum ada yang sakit perut atau kebelet pipis dan terbesit pikiran agak jahat moga-moga aja ada yang pingsan.  Tak lama kemudia ada yang melintas didepan antrian yaitu calon siswa yang melintas dengan membawa selembar kertas biru dengan nomer kursi, celetus dari pengantri disebelahku “anak itu lho ngantri disini dari jam 4.00 pagi”, terkejut mendengar apa yang baru dikatakan oleh temen pengantri disebelahku. Tapi pikiran ku tetap ku ajak ke arah positif “kan masih ada cadangan dan cadangan itu juga masih punya harapan”.  Kalau memang cadangan ndak apa-apa, kan besok sewaktu pendaftaran ada nama peserta yang dipanggil 3X kok tidak nonggol-nonggol berarti kesempatan cadangan masih terbuka untukku, kata-kata itu selalu ke lekatkan dipikiranku, toh masih ada kesempatan dan jangan menyerah karena salah satu prinsipku 1 jam yang akan datang kita ndak akan tahu dan mungkin saja kata-kata positif yang kutanamkan mungkin akan terjadi 1 jam kemudian.

Tiba-tiba panitia BEC yang mengatur jalannya antrian datang di urutan nomer kursi 221 sampai seterusnya dan termasuk aku didalamnya yang mendapat kursi nomer 238. Untuk peserta pendaftar yang hanya diambil sampai 221 nomer kursi saja dan yang lainnya mohon maaf, tapi dicabang BEC yaitu HEC-2 masih disediakan kesempatan dan jika setelah 3 bulan di HEC dan nanti kalau mau melanjutkan ke BEC itu bisa yaitu untuk program TC-nya…penjelasan yang disampaikan panitian kepada calon pendaftar yang tidak mendapat lembaran biru dari panitia. Kesal, jengkel, kecewa, menyesal, rugi, itulah perasaan campur aduk yang berputar-putar dipikiranku sewaktu panitia mendatangi peserta yang ndak dapat nomer termasuk aku. Langsung merenung sebentar, tadi panitia menjelaskan kalau setelah 3 bulan di HEC bisa melanjutkan ke BEC….Baiklah kalau memang itu jalanku, akan ku buktikan nanti ku pasti bisa di BEC setelah 3 bulan kedepan nanti dan saking panasnya dada sampai sempat terbesit dipikiran “Lihat saja nanti selain di BEC nanti ku pasti juga bisa menjadi pengajar juga di BEC” itulah perasaan yang membludak dipikiranku dan hatiku saat itu dan Insya Allah akan ku jaga kata-kataku itu sampai datang 3 bulan kelak….bersambung ke Ini mungkin Jalanku di Kampung Inggris Pare Bagian 3

Mau Lihat Lebih...
Mau Lihat Lebih...

Written by

Filed under: Pengalaman · Tags: , , , ,

Leave a Reply

*

*

You might also likeclose